Langsung ke konten utama

Diary : Diet






“Pas mondok badan lu jadi gemukan nan?” kata temen gue.
“Nggak tau nih, gue juga bingung. Nanti mau coba diet ah.” Ucap gue.
“Alah! Sok diet, palingan juga nggak bisa lu”
       
          Sejak dibilang nggak bisa diet, gue semakin termotivasi untuk bisa diet..
      Di dalam buku yang pernah gue baca, ada macam-macam diet :
-          -Diet ringan itu, makan seperti biasa tiga kali, tetapi makan malam dipindah jadi makan sore.
-         -Diet sedang, makan dua kali sehari, tidak dianjurkan sarapan. Tidak boleh makan malam.
-         -Diet berat, di anjurkan melihat mantan jalan sama pacar barunya. Itu bercanda. Diet berat, dianjurkan puasa, ketika buka puasa tidak dianjurkan makan nasi.
         Karena gue sangat antusias untuk menurunkan badan, jadi gue lebih memilih…. Nggak diet. Maaf yang tadi cacing perut gue yang nulis. ( lah ! ).
Gue memilih diet ringan, bukannya nggak bisa diet yang berat, tapi karna gue sedang mondok. Diet ringan sangat cocok ketika mondok.
Ini alasan kenapa gue nggak milih diet sedang atau berat:        
           Kalau gue pilih diet sedang. Makan hanya dua kali, tetapi jatah makan di pondok tiga kali. Kalau di hitung-hitung, jatuhnya gue rugi.
           Apalagi kalau pilih diet berat, di pondok tidak ada jadwal sahur dan buka puasa selain bulan Ramadhan. Jatuhnya gue rugi banget. (ada ‘banget’nya).         
         
          Diet ringan gue lakukan selama dua bulan. Gue nggak makan malam, di tambah dengan push up dan sit up. Setelah dua bulan, saatnya untuk menimbang badan. Sebelum diet, berat badan gue, 75 kilo. Dengan harapan yang kuat, pasti berat badan gue turun drastis dan gue buktiin ke temen kalau gue bisa diet.
           
          Gue nimbang di Poskestren (Pos kesehatan pesantren). Karna di sana ada alat penimbang berat badan.
           
         Saat gue menginjak alat penimbang. Boom ! akhirnya berat badan gue turun. Menjadi 71 kilo. Memang tidak drastis sih, tetapi seenggaknya berat badan gue turun.
          Pas gue kasih tau ke temen gue, kalo berat badan gue turun dari 75 ke 71.

 Ada yang bilang :
Yang pertama : “Yaelah, Cuma turun empat kilo doang.”
Yang kedua    : “Waw, nggak percaya gue!”
Yang ketiga    : “Wah, rusak kali tuh timbangan!”

Jangan lupa komen ya... hihihi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAHUN 2018 MENGECEWAKAN !

Bissmillah. Assalamualaikum. Wr.Wb Kenapa gue ngasih judul tahun 2017 itu mengecewakan? Maaf nih, jadi rada-rada ke politik, ini tulisan lebih kearah unek-unek gue ajak sih, menjalani di tahun 2017. Maaf ya, kalo tahun 2017 ini kurang lengkap menjelaskannya. karena gue anak rumahan banget, jadi ngga terlalu mengerti kehidupan diluar sana. yang gue ketahui hanya dari dunia maya, dan hanya sekitar doang. Kenapa Mengecewakan? Pada Tahun 2017, Politik di Indonesia itu sangat amat panas. Apalagi yang terjadi saat lalu, persaingan menjadi kepala daerah. Jadi mainnya kubu-kubuan, entah pribumi lah entah rakyat mana lah. ini yang menjadi keresahan gue. Dampak dari pemilu kepala daerah itu menjadi sangat amat besar, apalagi dampaknya langsung ke isu SARA. Yang dimana isu SARA di Indonesia ini sangat sensitif, karna yang kita ketahui Indonesia terdiri dari berbagai Suku, Agama, Ras dan Adat. Dampak yang timbulkan bukan hanya di Agama hanya, tetapi berujung ke Media sosial, dimana netize...

Apa Sih bedanya Stand Up Comedy dengan Open Mic?

                                                                Apa Sih bedanya  ?           Banyak orang salah mengartikan apa itu openmic. Ya, mereka berfikiran openmic adalah sebuah show stand up comedy. Ada benarnya sih, tapi dalam dunia stand up comedy, openmic atau ada yang menyebut sebagai amateur night adalah sebuah acara yang biasanya diadakan oleh sebuah komunitas pecinta stand up comedy sebagai tempat untuk siapa saja yang ingin belajar stand up comedy.   Intinya Open mic, adalah untuk mencoba materi baru yang di buat komika untuk show Stand Up Comedy.  Seperti mematangkan Puchline, delivery atau Act Outnya.  Jadi buat siapa saja yang ingin belajar s...

#TanyaPenulis: Windry Ramadhina

Delapan karya sudah dihasilkannya dan sukses meraih hati pembaca. Yup , dialah Windry Ramadhina. Kehadiran Windry di dunia kepenulisan tentu memberikan warna tersendiri. Selalu ada yang baru dalam setiap karyanya. Begitupun dengan novel Last Forever yang belum lama ini rilis di pasaran. Seperti apa, sih, novel terbaru Windry? Nah, berikut ini adalah beberapa pertanyaan seputar novel Last Forever yang ditujukan kepada Windry dari pembaca. @rrinimini: Kenapa kakak memilih judul ' Last Forever ' untuk novel kakak? Novel kedelapan saya ini membahas komitmen, secara spesifik: pernikahan. Pernikahan selalu menyimpan harapan mengenai cinta dan janji setia yang bertahan selama-lamanya, mengenai sesuatu yang tidak terkikis waktu. Maka itu, saya memilih judul Last Forever . @fradinaclo: Hal tersulit apa yang Kakak alami saat mengerjakan Last Forever ? Hal tersulit dalam proses penulisan Last Forever barangkali adalah memahami pola pikir kedua tokoh utamanya. Dari segi ...