Gue sedang berdiri di
ambang pintu kelas, lagi asyik memandangi sudut-sudut sekolah, yang masih sepi
belum ada yang datang. Jam di tangan gue menunjukan pukul 6. hari ini gue
tumben datang pagi karena kebagian jadwal piket. Gue biasanya datang ke sekolah
ketika bel sudah bunyi. Maklum bangun pagi tepat waktu memang susah, tunggu di
siram air sama bokap , buat bangun solat subuh dan sekolah.
Gue , Atung dan Ozi
, kebagian piket untuk hari ini.
Atung, teman sebangku gue. Badannya lebih tinggi dari gue,matanya sipit, memakai
kaca mata. Kayak orang cina nyasar, yang banyak di glodok. Dia dambaan bagi
para cewe. Mungkin kalau gue cewe, gue udah nembak dia. Serius itu Cuma
bercanda. Ozi,berperawakan gendut , mata besar dan berkulit hitam. Mungkin
kalau dia tinggal di Zimbabwe, dia satu-satunya orang yang hidup sehat. Ozi ini
temen deket gue yang sangat malu. Tapi kalau sudah kelebihan batas , gua yang
di bikin malu. Bayangin aja orang gendut kayak Ozi , joget-joget terus badannya
goyang tanpa arah. Serius menjijikan. Gue ini balance, ganteng engga dan
kayak Ozi juga engga. Badan gue pendek semampai.tinggian gue sama Ozi. Gigi gue
engga di behel ,gue bukan anak alay yang selfie sampai giginya di keluarin dan pasang
muka paling jelek. Kasihan Ozi , dia pengin ganteng. Yang bikin gue sebal,
hidung gue yang pesek. engga tau mungkin saat gue bayi , Nyokap engga sengaja
nginjek hidung gue.
Gue mau kenalin sekolah
gue , sekolah gue ini sekolah madrasah. Sekolah yang lingkungannya sangat
islami. Semua guru di sekolah ini ustadz.
Yang bikin gue
kesel, Sekolah gue ini di pisah, antara cewe dan cowo. Di pisah oleh jalanan.
Jadi kalau mau lihat cewe ,harus nyebrang susah payah karena kendaraan ramai
lancar, ketika sampai di sana , ternyata di usir oleh satpam. Kayak berjuang
balikan dengan mantan , taunya dia udah punya cowo baru. Begitu mengecewakan.
Tetapi ada hari tertentu
cewe datang ke sini (sekolah cowo), untuk memakai lapangan. karna di sana
(sekolah cewe) tidak ada lapangan.Ya cukup adil sih. Lapangan di pakai untuk
olah raga atau lain-lain. Begitulah kesempatan cowok-cowok bisa melihat cewe.
Saat gue lagi
bersandar di tembok, Atung mendekat ke gue. dia ngomong ,sekarang cewe datang
ke sini. Sebuah informasi yang menyenangkan. Gue kagum sama Atung , semua
informasi tentang cewe bisa gue dapatkan darinya.
Atung mengajak gue
masuk ke kelas, gue melihat Ozi sedang fokus menghapus papan tulis dan
menghapus kenangan masa lalu, serius yang terakhir salah. jadi jangan di ganggu
dulu. Gue lihat Atung sangat serius.
“ayo kita buat
rencana” kata dia mengepalkan kedua tangannya di dada memantapkan ucapannya.
Gue kaget , rencana apa? –gumam gue dalam hati. Mungkin dia buat
rencana untuk nembak gebetannya. Yang gue tau Atung itu playboy.
“rencana
untuk?” tanya gue, dengan masang muka bego.
“ahh lo gimana
sih, tadi udah gue kasih tau ,sekarangkan cewe bakal ke sini, nah kita buat
rencana untuk kesana dan melihat cewe-cewe” kata dia dengan nada sewot.
Jadi sekolah gue ada dua lapangan,
lapangan satu dekat dengan kelas. Yang satunya di dekat gerbang sekolah. Lapangan
ini yang bakal di pake oleh cewe yang memang
sudah di khususkan untuk cewe. Kalau ada yang berani datang ke sana saat cewe
sedang memakainya ,dan bila ketahuan oleh pihak keamanan sekolah maka akan
diberikan hukuman.
“jadi
rencananya gimana?” tanya gue dengan penasaran
“jadi gini, kita jalan ke sana, tapi bergerak
dengan pelan, seolah-olah engga ada yang tau kalau kita kesana. Kalau melihat
sekitar kepalanya jangan gerak-gerak, matanya aja yang gerak” kata Atung sambil
melipat tangan ke dada
Matanya aja yang gerak, udah kayak buaya nyari jodoh. Badannya diem
matanya yang gerak.
“gokil lo Tung,
kalau kita ketauan gimana? Rambut gue yang bagus ini bisa plontos” kata gue,
engga nyangka dengan rencana yang di buat oleh Atung. “emangnya lo mau kalau kita
nanti jadi botak plontos”
“emangnnya lo
engga tau? Sekarang pihak keamanan lagi rapat sama guru di sana (sekolah cewe)”
katanya dengan tenang.
“lo serius?”
gue pasang muka tablo setengah bahagia.
Dia hanya mengangguk dengan gaya cool-nya
Jantung gue cukup aman kali ini, setelah Atung memberi kabar baik. Gue
lihat Ozi udah selesai, lalu duduk di depan gue. gue berbisik pelan mengarahkan
mulut gue ke telinga Ozi.
“lo mau ikut
engga” kata gue
Dia membalikan kepalanya
“ikut apaan?
Gue lagi sibuk nih”
“ahh gaya lo
sok sibuk, kesibukan lo Cuma makan sama ngeledekin guru aja, udah nanti istirahat
gue kasih tau lo”
^--^
Bel masuk berbunyi, Guru tidak masuk, menjadi kesempatan buat kami
bertiga keluar kelas.
Atung memberikan posisi-posisi
yang sudah di rencanakan. Atung menunjuk gue sebagai pendamping dari belakang.
Kemudian Ozi sebagai penjaga situasi, mungkin posisi Ozi sangat tidak enak, dia
menjaga tetapi tidak menikmati. kasian sekali. oke ,persiapan sepertinya sudah
siap, saatnya kita beraksi.
Atung yang ada di depan
gue selalu berjalan dengan tenang. Mata gue kayak orang cacingan ga bisa diem.
Mungkin setelah rencana ini, mata gue bakal keluar dari kelopaknya. Gue melihat
Ozi yang sedang duduk di dekat taman sekolah , sedang siaga melihat kanan-kiri.
Walaupun pihak keamanan sedang tidak ada. Yang di takuti adalah ada anak murid
yang ngelihat dan bakal ngelaporin, itu adalah masalahnya. Setiap berjalan dan
ada anak murid , kami ber-acting sebagai
kakak ade. Ceritanya kekerasan seorang kakak. Jadi actingnya Atung menghajar
gue setiap ada murid yang lewat. supaya tidak di curigai.
Beberapa langkah lagi
kita akan sampai di lapangan yang di isi oleh cewe-cewe. saat gue menengok ke
arah belakang , sepertinya ada guru yang baru keluar dari kantor. Gue tepuk
pundak Atung, untuk berhenti sementara dan mengumpat di belakang pohon.
“lo bener liat
ada guru” tanya Atung dengan serius
“tadi gue liat
, guru keluar dari kantor. Takutnya dia ngeliat kesini”
“kan gue udah
bilang , Guru sama pihak keamanan lagi rapat” katanya dengan tenang
Gue dan Atung keluar dari pohon , melanjutkan langkah selanjutnya. Tinggal
beberapa langkah lagi mau sampai. Gue lihat Ozi engga ada di tempatnya. kemana
Ozi? –gumam gue dalam hati
“Tung, Ozi
engga ada !!” kata gue dengan nada kaget, menepuk pundaknya.
Atung berbalik arah
“serius lo?”
tanya dia dengan penasaran
Gue mengangguk.
Gue dan Atung tetap melanjutkan langkahnya, gue membuntutinya.
Nanti saja mikirin Ozi, ini sudah mau sampai tanggung.
“Ayo lanjutkan langkah kita” kata Atung dengan percaya diri
Hanya beberapa langkah lagi, kita akan sampai di lapangan.
Tiba-tiba perut gue mulai bergejolak,gue merasakan mulas yang sangat amat pedih.
gue pengin buang air besar.
“Tung ,perut gue sakit banget, gue mau ke toilet dulu” kata gue ,
sambil melangkah dan menjauh dari Atung.
“Tapi ini sebentar lagi mau sampai” suaranya terdengar pelan dan
menghilang.
^--^
Perut gue rasanya sangat plong. Ketika gue keluar dari kamar mandi
, tiba-tiba gue melihat Ozi yang sedang merapihkan celananya.
“kok lo disini Oz?” tanya gue, menepuk pundaknya.
Dia berbalik arah dan kepalanya setengah menunduk.
“perut gue melilit banget, mules. jadi gue terpaksa harus
ngegagalin rencana kita” katanya dengan suara yang penuh dosa. “Sorry banget ya
bro” kata Ozi menengadah menghadap gue.
Ozi ternyata sakit perut juga , kok bisa sama kayak gue. oh mungkin
Cuma kebetulan aja –gumam gue dalam hati.
“gue juga , tadi mules banget Oz, jadi terpaksa gue harus ninggalin
Atung di medan perang” kata gue lirih. Maaf kan teman mu ini Oz ,telah
menggagalkan rencana yang sudah di buat.
Ketika mau berjalan keluar toilet, terdengar suara.
“woy tunggu..!” suara terdengar dari balik punggung.
gue dan Ozi membalikan badan dan ternyata.
“Atung..!!”ucap gue dan Ozi bersamaan
“lo kenapa di sini, jadi lo mundur buat liat cewe-cewe di sana?”
tanya gue ,sambil memangku dagu.
“jadi lo takut ya tung” Ozi membalas dengan senyum seringai
Atung berjalan mendekat, gue melihat mukanya sangat kesal.
“gue engga bakal takut kalau Cuma ketemu cewe, walaupun sendirian”
katanya dengan percaya diri.
Gue sih percaya aja. Dia ga pernah yang namanya nervous ketika
bicara sama cewe. itu yang bisa gue banggakan pada dirinya.
“terus?” tanya gue sama Ozi bersamaan sambil pasang muka penasaran.
“jadi saat gue mau lanjut ke sana, perut gue juga merasa melilit,
mules engga bisa di tahan sama sekali, jadi gue langsung lari kebirit ke toilet
sambil megangin perut , takut keluar di celana. jadi bikin ribet” jelasnya.
“kok kita bisa samaan sih? sama-sama sakit perut, sama-sama pengin
buang air besar” kata gue meneliti yang telah terjadi.
“mungkin kita bertiga jodoh” kata Ozi dengan senyum simpul
“ishhhh najis banget gue sama lo, ada-ada aja sih” kata Atung
sambil memukul kepalanya Ozi. Mungkin Ozi sedang tidak sadar. Kesambet setan
banci yang di lampu merah
Setelah gue berfikir, ketika sedang istirahat kami bertiga berada
di kantin. Kami memesan bakso. Kami bertiga kemudian mengadakan kompetisi yaitu
makan bakso pedas. Siapa yang kuat menghabiskan bakso, maka dia pemenangnya.
Jadi setiap mangkuk di campurkan sepuluh sendok sambal merah dan sambal hijau.
Kemudian di tambah irisan cabai , masing-masing sepuluh buah. Dengan rasa percaya
diri dan mental-mental juara, kami bertiga menghabiskan bakso pedas ini tanpa
tersisa. Jadi kami bertiga pemenangnya. Setelah itu mulut kami seperti bebek
kesurupan , monyong-monyong engga bisa diam. Setelah bel masuk, memang belum
ada reaksi sama sekali.
Rencana yang di buat Atung gagal total.
Kami bertiga engga bisa keluar dari toilet. Setiap mau keluar, perut terasa sakit, kemudian
masuk ke toilet lagi. Hingga akhirnya kami ke ruang UKS. Kami bertiga pulang
dengan muka pucat pasi dan lemas.
Komentar
Posting Komentar